Membaca sering kali terdengar seperti hal sederhana. Namun kenyataannya, di sisi lain, banyak ibu dan bapak yang ingin membaca, tetapi kerap kalah oleh rasa lelah, waktu yang sempit, atau godaan layar ponsel. Padahal, Motivasi membaca tidak harus datang dari target besar atau buku tebal.
Di Studio Literasi, membaca dipandang sebagai proses manusiawi. Tidak perlu sempurna, yang penting konsisten dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Motivasi membaca Bukan Soal Pintar, Tapi Soal Niat
Banyak orang merasa membaca hanya untuk mereka yang “rajin” atau “sudah pintar”. Padahal kebiasaan membaca justru dibangun dari langkah kecil. Buku tidak harus langsung ditamatkan. Satu halaman pun sudah cukup, asalkan dilakukan dengan sadar.
Di sinilah motivasi membaca perlu didekati secara lembut. Membaca seharusnya memberi rasa tenang, bukan tekanan.
Mulai dari Buku yang Dekat dengan Kehidupan Motivasi membaca
Agar membaca terasa ringan, pilih buku yang sesuai dengan peran dan keseharian. Ibu bisa mulai dari buku parenting, resep, atau kisah inspiratif. Bapak bisa membaca buku pengembangan diri, bisnis ringan, atau biografi tokoh.
Ketika isi buku terasa relevan, motivasi membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Buku tidak lagi terasa jauh, tapi menjadi teman ngobrol.
Luangkan Waktu Kecil Tapi Konsisten
Waktu membaca sering dianggap harus lama. Padahal 10–15 menit sehari sudah cukup untuk membangun kebiasaan. Waktu ini bisa diambil sebelum tidur, setelah subuh, atau saat anak sedang beristirahat.
Kebiasaan kecil yang dijaga akan membentuk motivasi membaca yang stabil, bukan yang muncul sesaat lalu hilang.
Lingkungan yang Mendukung Itu Penting
Membaca akan lebih mudah dilakukan ketika lingkungan mendukung. Di Studio Literasi, suasana membaca dibangun agar terasa hangat dan ramah. Tidak ada tuntutan, tidak ada penilaian.
Ketika seseorang merasa diterima, motivasi membaca bisa dipelihara lebih lama. Proses membaca pun dijalani dengan lebih nyaman.
Membaca untuk Diri Sendiri, Bukan untuk Pamer
Tidak semua hasil membaca harus dibagikan ke media sosial. Kadang membaca cukup dinikmati sendiri. Pengetahuan yang masuk pelan-pelan akan membentuk cara berpikir dan sikap hidup.
Studio Literasi percaya bahwa motivasi membaca terbaik lahir dari keinginan merawat diri, bukan dari dorongan terlihat hebat.

Studio Literasi, Ruang Bertumbuh Lewat Buku
Studio Literasi hadir sebagai ruang aman bagi siapa pun yang ingin kembali dekat dengan buku. Di sini, membaca diposisikan sebagai perjalanan, bukan perlombaan.
Jika membaca selama ini terasa berat, mungkin caranya yang perlu diubah. Bersama Studio Literasi, motivasi membaca bisa dibangun dengan cara yang lebih manusiawi dan realistis.
