Muhammad Akmal Hanafi Berbagi wawasan dengan tulisan

Gambar dan Ciri Jamur Ascomycota

3 min read

jamur ascomycota
Gambar Jamur Ascomycota, Foto Oleh Hot Liputan6 Com

Kawan Literasi yang duduk di bangku kelas 10 SMA, salah satu materi biologi yang kalian pelajari adalah materi tentang jamur, meliputi basidiomycota, deuteromycota, zigomycota dan ascomycota. Nah, kali ini, studioliterasi akan membahas tentang jamur ascomycota, mulai dari ciri, peran, dan reproduksi ascomycota.

Asal nama Ascomycota

Penamaan ascomycota diambil dari bahasa latin yang berbunyi “ascus” yang memiliki arti “kantung” karena dapat menghasilkan buah yang berbentuk seperti kantong untuk memproduksi spora. 

Jamur jenis ini merupakan kelompok jamur yang paling besar jika dibandingkan dengan kelompok jamur lain yang termasuk ke dalam subkingdom jamur tingkat tinggi atau fungi tingkat tinggi (dikarya).

Ciri-ciri Ascomycota

Seperti kelompok jamur lainnya, kelompok jamur ini juga memiliki ciri-ciri tersendiri, berikut penjelasan lengkap tentang ciri-cirinya.

  1. Ciri-ciri ascomycota yang pertama adalah, ada yang memiliki tubuh uniseluler dan ada juga yang memiliki tubuh multiseluler.
  1. Terdapat sekat-sekat dan inti yang banyak pada hifanya.
  1. Ada yang hidup dengan cara saprofit, parasit, dan ada juga yang bersimbiosis dengan Lichenes.
  1. Mempunyai tubuh buah, atau bisa juga disebut dengan askokarp.

Reproduksi Ascomycota

Reproduksi jamur ini dapat dilakukan secara aseksual maupun seksual, berikut penjelasan tentang masing-masing jenis reproduksi ascomycota.

Reproduksi Ascomycota Aseksual

Reproduksi aseksual adalah proses perkembang biakan tanpa adanya sebuah hubungan seksual, yang artinya reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan, fertilisasi, meiosis, atau ploidi pengurangan. 

Reproduksi ascomycota secara aseksual ada yang berdasarkan uniseluler dan multiseluler. Berikut penjelasannya.

  1. Uniseluler
Reproduksi Ascomycota Aseksual Uniseluler
Reproduksi Aseksual Uniseluler, Foto Oleh Repo Unand Ac Id

Reproduksi ascomycota secara aseksual berdasarkan uniseluler dilakukan dengan cara pembelahan sel atau tunas yang terlepas dari sel induk. 

Tunas yang melepaskan diri akan menjadi sebuah sel jamur ascomycota yang baru. Namun, bila tidak terlepas maka sel tunas akan membentuk rantai pseudohifa atau yang bisa juga disebut sebagai hifa semu.

  1. Multiseluler
Reproduksi Ascomycota Aseksual Multiseluler
Reproduksi Aseksual Multiseluler, Foto Oleh Repo Unand Ac Id

Reproduksi ascomycota secara aseksual berdasarkan multiseluler dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu fragmentasi hifa dan pembentukan spora aseksual konidiospora. 

Hifa dewasa yang terlepas akan berkembang menjadi hifa jamur baru. Hifa haploid (n) yang sudah dewasa akan memproduksi konidiofor (tangkai konidia). 

Ujung konidiofor akan membentuk spora yang diterbangkan oleh angin, spora tersebut bisa juga disebut dengan nama konidia. 

Jumlah kromosom pada konidia akan haploid (n). Konidia pada jamur Ascomycota memiliki berbagai macam warna, antara lain berwarna oranye, kecoklatan, biru atau hitam. 

Jika konidia berada di kondisi lingkungan yang menguntungkan, maka konidia akan berkecambah menjadi hifa yang haploid.

Reproduksi Ascomycota Seksual

Reproduksi seksual adalah proses reproduksi yang hanya akan terjadi jika ada dua ascomycota.

Sama halnya dengan reproduksi ascomycota aseksual, reproduksi ascomycota seksual dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu uniseluler dan multiseluler, berikut penjelasannya.

  1. Uniseluler
Reproduksi Ascomycota Seksual Uniseluler
Reproduksi Seksual Uniseluler, Foto Oleh Repo Unand Ac Id

Reproduksi ascomycota seksual dengan cara uniseluler diawali dengan bersatunya dua sel haploid (n) dengan jenis yang berbeda. Hasil dari penyatuan tersebut akan menghasilkan zigot dengan kromosom diploid (2n). 

Zigot tersebut nantinya akan tumbuh membesar menjadi kantong (askus) yang diploid. Inti (nukleus) diploid di dalam askus akan membelah dengan cara miosis yang akan menghasilkan empat inti yang berkromosom haploid (n). 

Di sekitar empat inti (nukleus) tersebut, akan terbentuk dinding sel dengan empat askospora didalam kantong (askus) berkromosom haploid (n). 

Jika kantong (askus) sudah matang, maka selanjutnya askus akan terpecah, lalu mengeluarkan askospora. Askospora tersebut akan tumbuh menjadi sel jamur baru dengan jumlah kromosom yang haploid (n).

  1. Multiseluler 
Reproduksi Seksual Multiseluler
Reproduksi Seksual Multiseluler, Foto Oleh Repo Unand Ac Id

Jika ada hifa (+) dan hifa (-) yang masing-masing memiliki kromosom haploid dan posisinya saling berdekatan. Pada hifa (+) akan terbentuk askogonium (alat reproduksi betina), sedangkan pada Hifa (-) akan terbentuk anteridium (alat reproduksi jantan).

Askogonium akan membentuk saluran yang dapat menuju ke anteridium yang bisa juga disebut dengan trikogin. Melalui trikogin proses peleburan sitoplasma (plasmogami) terjadi.

Askogonium akan menerima nukelus yang jumlah kromosomnya haploid dari anteridium, sehingga askogonium akan memiliki banyak inti dari keduanya (dikariotik), dari dirinya sendiri dan juga dari anteridium.

Askogonium akan tumbuh menjadi sebuah hifa dikariotik dengan banyak cabang yang tergabung dalam tubuh buah (askokarp).

Ujung-ujung hifa pada tubuh buah (askokarp) akan membentuk kantong (askus) dikariotik.

Di dalam kantong (aksus) terjadi peleburan inti (kariogami) sehingga terbentuk inti (nukleus) yang berkromosom diploid (2n).

Inti diploid yang ada dalam kantong (askus) akan membelah dengan cara meiosis, lalu menghasilkan empat buah inti (nukelus) yang haploid (n).

Masing-masing dari inti (nukleus) yang haploid akan membelah dengan cara mitosis sehingga nukleus yang berada di didalam askus berjumlah delapan. Selanjutnya, di daerah sekitar nukleus akan terbentuk dinding sel dan askospora yang memiliki kromosom haploid (n).

Jika kantong (askus) telah matang, maka askospora akan terbesar secara serentak. Hal ini dapat terjadi dikarenakan, jika ada salah satu kantong (askus) saja yang pecah maka akan mengakibatkan kantong (askus) lainnya juga ikut pecah.

Askospora yang terjatuh pada tempat yang cocok, akan berkecambah menjadi hifa baru dengan kromosom yang haploid (n). Hifa haploid tersebut akan tumbuh bercabang-cabang membentuk miselium yang haploid (n) pula.

Peranan Ascomycota dalam Lingkungan

Jamur Ascomycota memiliki dampak baik sekaligus dampak buruk pada lingkungan, berikut penjelasannya.

  1. Sebagai dekomposer

Jamur ascomycota memiliki peranan penting terhadap siklus karbon yang terjadi di lingkungan, hal ini disebabkan karena jenis jamur ini dapat memecah molekul berukuran besar seperti selulosa dan lignin.

Selain itu, jamur ascomycota juga dapat menguraikan materi organik seperti tumbuhan dan hewan yang sudah mati.

  1. Sebagai parasit dan saprofit

Sebagai parasit, jamur ini dapat menjadi parasit pada berbagai macam tanaman seperti pepaya, teh, karet, cokelat, tembakau, padi, dan masih banyak lagi.

Sebagai saprofit, jamur jenis ini juga dapat hidup pada bahan makanan dan juga sampah.

Sekian dulu penjelasan lengkap tentang Ascomycota kali ini, kira-kira jenis jamur apalagi yang harus kita bahas di materi berikutnya?

Tulis di kolom komentar, ya!

Baca Juga: Hewan Vertebrata

Last Updated on Desember 14, 2020

Avatar
Muhammad Akmal Hanafi Berbagi wawasan dengan tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll Top