Muhammad Akmal Hanafi Berbagi wawasan dengan tulisan

Nilai Keelektronegatifan Atom

4 min read

Oh iya, sebelum membaca tulisan yang bercerita tentang nilai keelektronegatifan suatu atom kali ini, ada baiknya jika kalian mempelajari konfigurasi elektron terlebih dahulu agar lebih mudah memahami materi di bawah ini.

Apa Itu Keelektronegatifan?

Apa itu Keelektronegatifan? Keelektronegatifan adalah kemampuan suatu atom untuk menarik atom dari elektron lain mendekat ke arahnya. Nilai keelektronegatifan suatu atom dapat diketahui dengan melihat tabel periodik.

Semakin ke kanan letak suatu atom pada tabel periodik, maka akan semakin besar pula nilai keelektronegatifan atom tersebut. Sementara itu, semakin ke bawah letak suatu atom pada tabel periodik, maka akan semakin kecil pula nilai keelektronegatifan dari suatu atom.

Kenapa dapat disimpulkan seperti itu? Karena sifat tabel periodik yang berulang? Berulang gimana sih? Simak penjelasan berikut untuk tahu jawabannya.

Ukuran Atom

Ukuran Atom Keelektronegatifan
Ukuran Atom, Gambar Oleh I.N.G Wardana

Semakin ke kanan letak suatu atom pada tabel periodik, maka akan semakin kecil pula diameter permukaan atom tersebut. Sementara itu, semakin ke bawah letak sebuah atom pada tabel periodik, maka akan semakin besar pula diameter permukaan atom tersebut.

keelektronegatifan
Jumlah Kulit Terluar Suatu Atom Pada Tiap Golongan, Gambar Oleh I.N.G Wardana

Hal itu disebabkan, karena semakin ke kanan letak suatu atom pada tabel periodik, maka kekurangan jumlah elektron valensi pada suatu atom agar atom tersebut menjadi stabil akan semakin kecil pula.

keelektronegatifan
Konfigurasi Elektron Atom Oksigen, Gambar Oleh Kompas Com

Misalnya seperti atom oksigen (O) yang hanya membutuhkan dua buah elektron tambahan agar orbital 2p pada kulit terluar mereka memiliki jumlah atom sesuai penampungan maksimalnya, yaitu delapan elektron.

Namun, meskipun semakin ke kanan letak suatu atom pada tabel periodik jumlah elektron valensi semakin meningkat dan tidak menutup kemungkinan terjadinya pertambahan subkulit (orbital) atom, tidak membuat ukuran diameter suatu atom bertambah.

Hal ini dikarenakan daya tarik nukleus (inti atom) yang semakin besar pada atom yang terletak di bagian kanan sehingga membuat ukuran diameter dan nilai keelektronegatifan atom tersebut bertambah.

Namun, semakin ke bawah letak suatu atom maka jumlah elektron pada atom tersebut akan semakin besar pula.

Namun, karena drastisnya penambahan subkulit ataupun kulit atom yang tidak diimbangi dengan penambahan daya tarik nukleus yang besar pula, maka semakin ke bawah letak atom pada tabel periodik, akan semakin besar ukuran diamter atom tersebut.

Tentu saja hal itu membuat ukuran diameter suatu atom akan semakin besar, sehingga membuat jarak antara elektron pada kulit terluar (elektron valensi) akan semakin jauh dan membuat nilai keelektronegatifan atom tersebut berkurang.

Kira-kira, apa pengaruh ukuran atom terhadap nilai keelektronegatifan suatu atom? Kalau mau tahu jawabannya, lanjut scroll ke bawah ya!

Logika Dasar Besar Kecilnya Nilai Keelektronegatifan Suatu Atom

Berdasarkan penjelasan tentang ukuran atom di atas, bisa didapatkan apa penyebab dan logika dasar mengapa semakin ke kanan dan ke atas letak suatu atom pada tabel periodik, nilai keelektronegatifan atom tersebut akan semakin besar.

Semakin ke kanan letak suatu atom pada tabel periodik, semakin kecil pula ukuran diameter atomnya, namun daya tarik nukleus (inti atom) akan semakin besar.

Dengan satu atau dua orbital yang kosong (tidak terisi) ditambah lagi dengan tarikan kuat dari nukleus (inti atom), maka kemungkinan elektron untuk tertarik ke arah atom tersebut akan semakin besar, sehingga nilai keelektronegatifan atom tersebut menjadi lebih besar.

Namun, ada sedikit pengecualian tentang nilai keelektronegatifan dari atom-atom yang terletak pada golongan terakhir suatu tabel periodik, hal ini disebabkan oleh karena tidak ada lagi tempat di kulit terakhir atom tersebut untuk ditinggali oleh elektron lain.

Tabel Periodik
Atom Golongan Terakhir, Gambar Oleh Dosenpintar Com

Maksudnya, elektron yang berada pada golongan terakhir bersifat stabil, sehingga nilai keelektronegatifan atom tersebut bernilai nol.

Oleh karena itu, atom-atom yang berada pada golongan sebelum golongan terakhir yang terdapat pada tabel periodik merupakan atom-atom yang sangat lapar akan elektron, mereka memiliki nilai keelektronegatifan yang sangat besar. 

Kenapa seperti itu? Nanggung bro, tinggal satu elektron lagi mereka memiliki koleksi elektron valensi yang lengkap (kulit terluar penuh akan elektron), dengan lengkapnya jumlah elektron valensi pada kulit terluarnya, maka atom tersebut akan merasa stabil.

Itu lah jawaban mengapa keelektronegatifan pada atom-atom yang berada di golongan sebelum golongan paling kanan memiliki nilai yang tinggi

Sementara itu, jika kita lanjut ke nomor atom selanjutnya, akan ada satu elektron yang bertambah sehingga menambah jumlah kulit atom tersebut, sehingga menyebabkan kestabilan yang sudah dimiliki pada nomor sebelumnya (golongan terakhir) akan hilang.

Karena sifat alamiah atom menginginkan dirinya untuk tetap stabil, atom-atom tersebut cenderung lebih ingin membuang elektron valensi yang mereka miliki, sehingga nilai keelektronegatifan atom tersebut cenderung kecil.

Ilustrasi Interaksi Atom Dengan Nilai Keelektronegatifan Rendah dan Tinggi Saat Berikatan, Gambar Oleh I.N.G Wardana

Nah, begitulah kira-kira bagaimana cara Linus Pauling berfikir pada saat akan menentukan rumus besar atau kecilnya nilai keelektronegatifan atom pada tabel periodik. 

Kesimpulan yang dibuat oleh Linus Pauling tentang nilai keelektronegatifan atom-atom pada tabel periodik seperti yang sudah tertulis pada awal tulisan ini memang terkesan sederhana, namun ada proses yang agak sedikit rumit untuk mendapatkan kesimpulan tersebut.

Nah, setelah belajar tentang pengertian keelektronegatifan, hingga bagaimana merumuskan besar kecilnya nilai keelektronegatifan suatu atom, apa kalian paham kenapa Linus Pauli mau-mau saja pusing-pusing memikirkan bagaimana caranya menyusun nilai keelektronegatifan seluruh atom pada tabel periodik?.

salah satu fungsi dari mengetahui nilai keelektronegatifan suatu atom adalah untuk mengetahui nilai polaritas dari suatu ikatan senyawa.

Bagaimana Hubungan Keelektronegatifan Dengan Kepolaran Senyawa?

Kira-kira, apa ya gunanya kita mengetahui nilai keelektronegatifan suatu atom? Kalian tau nggak?.

Nah, kalau masih belum, studioliterasi akan membantu kalian untuk menjawabnya, langsung simak jawabannya di bawah ini ya!.

Kalian tahu ikatan kovalen? Saya anggap tahu saja ya, kalau belum tahu, lebih baik belajar tentang ikatan kimia dulu, baru balik kesini lagi.

Oke, salah satu yang menentukan variasi dari sebuah ikatan kovalen adalah gaya tarik menarik antar atom atau yang biasa kita sebut dengan sebutan polaritas.

Nah, kira-kira kalian tahu tidak, apa yang membuat gaya tarik menarik antara dua atom atau lebih menjadi besar? Apa yang membuat nilai polaritas semakin besar?

Nilai polaritas akan semakin besar jika atom dengan nilai keelektronegatifan yang sangat besar berikatan dengan atom yang memiliki nilai keelektronegatifan yang sangat kecil.

Intinya, polaritas suatu ikatan kovalen akan semakin besar jika selisih nilai keelektronegatifan antara atom yang berikatan semakin besar pula.

Hal ini diakibatkan karena masing-masing atom dengan selisih nilai keelektronegatifan yang tinggi memiliki dua kutub, yaitu positif dan negatif, kenapa bisa seperti itu? Ya karena nilai keelektronegatifan? Lah, kok bisa? Berikut penjelasannya.

Kita ambil saja contoh sebuah molekul karbon dioksida yang terdiri dari atom oksigen (O) dan karbon (C), kerna letak atom O pada tabel periodik berada di kanan atom C, maka atom O memiliki nilai keelektronegatifan yang lebih besar jika dibandingkan dengan atom C.

Ikatan Kovalen Polar Karbon Dioksida, Gambar Oleh I.N.G Wardana

Oleh karena itu, elektron valensi pada atom C lebih cenderung tertarik ke arah atom O saat mereka sedang berikatan sehingga menyebabkan atom O cenderung memiliki elektron berlebih. 

Sementara atom C kekurangan elektron karena elektron valensinya lebih cenderung mendekat ke arah atom O.

Oleh karena itu, atom C cenderung bernilai positif (+) karena kekurangan elektron, sementara atom O cenderung bernilai negatif (-) karena kelebihan elektron.

Baca juga: Hakikat Ilmu Kimia

Last Updated on Januari 13, 2021

Avatar
Muhammad Akmal Hanafi Berbagi wawasan dengan tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll Top