La Nina dan El Nino

2 min read

La Nina dan El Nino, Foto Oleh Geograph

Salah satu anomali cuaca yang sudah sangat familiar di telinga para ahli meteorologi adalah La Nina dan El Nino. Apa dan bagaimanakah dampak kedua fenomena anomali cuaca ini?

Pernahkah kalian sadar bahwa terkadang cuaca disekitar kita berubah menjadi sangat panas atau sangat dingin?

Perubahan cuaca yang juga terjadi di atmosfer inilah yang dinamakan sebagai anomali cuaca. Lalu bagaimana penjelasan ilmiahnya? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Pengertian La Nina

La Nina adalah kondisi dimana cuaca di daerah Pasifik menjadi sangat dingin. Kata La Nina berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak perempuan.

Pakar meteorologi juga mengatakan bahwa peristiwa ini adalah kondisi apabila suhu perairan minus dibawah -0,5C.

Anomali cuaca ini terjadi setiap 3-7 tahun sekali, dan sekalinya terjadi dapat berlangsung selama 1-2 tahun atau 12-36 bulan.

Terjadinya fenomena ini ditandai dengan adanya penurunan suhu perairan di bagian tengah dan timur ekuator Samudera Pasifik.

Penurunan suhu ini berdampak pada perubahan sirkulasi atmosfer seperti intensitas curah hujan di daerah tropis.

Fenomena inilah yang juga mempengaruhi peningkatan curah hujan di daerah Asia, Australia, dan Afrika.

Dalam kata lain, saat anomali cuaca ini terjadi, pertumbuhan awan dan hujan mengalami pergeseran ke wilayah Indonesia dan sekitarnya sehingga curah hujan pun meningkat.

Fenomena La Nina

Peristiwa La Nina berawal dari suhu permukaan laut yang turun di bagian timur Samudera Pasifik. Fenomena ini terjadi karena naiknya kecepatan angin pasat timur yang membawa banyak massa air hangat ke arah wilayah bagian barat Samudera Pasifik.

Banyaknya massa air hangat ini kemudian membuat massa air dingin di bagian timur Samudera Pasifik naik atau bergerak ke atas. Fenomena ini membuat daerah di wilayah barat Pasifik, Indonesia, dan Australia Utara mengalami peningkatan curah hujan.

Pengertian El Nino

Berbeda dengan La Nina, El Nino adalah kondisi dimana air menjadi hangat tidak seperti biasanya.

Kondisi menghangatnya air yang tidak lazim ini terkadang terjadi ketika menjelang Hari Natal. Selain itu, pakar meteorologi juga berpendapat bahwa peristiwa ini terjadi apabila suhu di perairan positif diatas +0,5C.

Kata El Nino sendiri juga berasal dari bahasa Spanyol yang berarti anak laki-laki.

Peristiwa ini biasanya mulai terjadi pada pertengah tahun yang diawali dengan meningkatnya suhu perairan dalam skala besar di bagian tengah dan timur ekuator Samudera Pasifik.

El Nino juga menyebabkan terjadi perubahan sirkulasi atmosfer tropis. Normalnya, fenomena El Nino ini mencapai puncaknya pada bulan November hingga Januari, dan bisa berlangsung selama 9-15 bulan.

Salah satu akibat dari fenomena El Nino yang pernah tercatat adalah terjadinya kekeringan di Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Sebaliknya, di wilayah Amerika Serikat terjadi hujan yang sangat lebat pada rentang tahun 1997-1998.

Fenomena El Nino

Terjadinya El Nino berawal dari naiknya suhu di perairan bagian tengah dan timur ekuator Samudera Pasifik. Naiknya suhu perairan ini menyebabkan lemahnya kecepatan angin pasat timur yang bergerak dari Timur ke Barat.

Penguapan air yang terjadi menyebabkan terbentuknya awan. Meningkatnya tekanan udara di bagian barat Samudera Pasifik menghambat pertumbuhan awan di lautan timur Indonesia.

Hal inilah yang menyebabkan turunnya curah hujan di beberapa wilayah Indonesia. 

Fase Netral (Neutral Phase)

Terdapat fase yang terjadi antara kedua anomali cuaca yang telah dijelaskan diatas. Fase ini disebut sebagai fase netral yang juga dikenal dengan nama Sirkulasi Walker (Walker Circulation).

Fase netral ini dimulai dengan adanya air laut bersuhu rendah di wilayah pantai Amerika Serikat yang dekat Ekuador, dan Perairan Peru. Air laut ini kemudian bergerak naik (upwelling).

Pada fase ini, angin pasat timur juga bergerak dari timur ke bagian barat Ekuator Samudera Pasifik membawa air laut dibawahnya.

Pergerakan ini menyebabkan adanya perbedaan tekanan udara permukaan.

Air laut ini kemudian mengalami penguapan dan menyebabkan meningkatnya kelembaban udara sehingga cuaca di wilayah bagian barat Samudera Pasifik, Indonesia, dan Australia Utara memiliki potensi untuk berawan dan hujan.

Dampak La Nina

  • Menyebabkan angin pasat timur dan sirkulasi angin muson menguat
  • Mengakibatkan penurunan curah hujan di wilayah bagian timur Samudera Pasifik
  • Meningkatkan potensi hujan di bagian barat ekuator Samudera Pasifik

Dampak El Nino

  • Menyebabkan lemahnya angin pasat timur dan sirkulasi angin muson
  • Mengakibatkan penurunan curah hujan di wilayah Indonesia, Amerika Tengah, dan bagian utara Amerika Selatan
  • Menyebabkan terjadinya kemarau di Indonesia
  • Meningkatkan potensi hujan di bagian tengah ekuator Samudera Pasifik
  • Mengakibatkan terjadinya fenomena coral bleaching serta menurunnya tangkapan ikan

Wah ternyata menarik ya belajar mengenai anomali cuaca seperti La Nina dan El Nino! Semoga dengan belajar lebih lanjut tentang kedua fenomena ini, kita dapat mengantisipasi kemungkinan buruk yang dapat terjadi karena perubahan cuaca.

Baca artikel lainnya:
Kondisi dan Letak Geografis Pulau di Indonesia
Pengetahuan Dasar Geografi

Last Updated on Oktober 6, 2020

Avatar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll Top